Monday

HADIAH BAGI DOKTER DARI PERUSAHAAN OBAT

Menimbang adanya persaingan ketat di antara perusahaan obat yang demikian banyak, maka perwakilan perusahaan obat memberikan hadiah kepada para dokter semisal pena yang tercantum padanya nama perusahaan, jam, tape recorder dll. Hadiah-hadiah tersebut adalah kompensasi karena dokter meresepkan obat yang diproduksi oleh perusahaan tersebut. Perlu diketahui bahwa perusahaan obat memang telah menyiapkan anggaran khusus untuk iklan. Terkadang perusahaan obat menjanjikan hadiah dengan nilai tertentu sebagai kompensasi karena telah meresepkan obat tertentu dalam jumlah tertentu.

Terkadang perusahaan obat menjanjikan kepada dokter hadiah sebagai kompensasi karena telah meresepkan obat tertentu tanpa menargetkan nilai tertentu untuk obat yang diresepkan. Terkadang isi obat sama, akan tetapi obat tersebut diproduksi oleh beberapa perusahaan dengan nama yang berbeda-beda. Seorang dokter lantas meresepkan obat yang perwakilan perusahaan pemroduksinya rutin mengunjunginya dengan membawa berbagai macam hadiah. Apakah memasarkan obat dengan cara semacam ini diperbolehkan ataukah tidak? Apa hukum hadiah perusahaan obat kepada dokter?

Jawaban Lajnah Daimah:


لا يجوز للطبيب أن يقبل الهدايا من شركات الأدوية ، لأن ذلك رشوة محرمة ، ولو
 سميت بهدية ، أو غير ذلك
من الأسماء ، لأن الأسماء لا تغير الحقائق ، ولأن هذه الهدايا تحمله على الحيف مع الشركة التي تهدي إليه دون غيرها ، وذلك يضر بالشركات الأخرى

Tidak boleh bagi seorang dokter untuk menerima hadiah dari berbagai perusahaan obat karena hadiah tersebut adalah suap yang tentu saja hukumnya adalah haram meski diberi kedok 'hadiah' atau nama indah lainnya karena perubahan nama itu tidak mengubah hakikat sesungguhnya.

Alasan lain untuk melarang hadiah semacam ini adalah karena hadiah ini mendorong seorang dokter untuk hanya berpihak kepada perusahaan obat yang memberikan hadiah kepadanya yang tentu saja dampaknya adalah merugikan perusahaan lain.

Fatwa ini ditandatangani oleh Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah alu Syaikh, Syaikh Abdullah bin Abdurrahman bin Ghadayan dan Syaikh Shalih bin Fauzan al Fauzan (Fatawa Lajnah Daimah, 23:570-572, pertanyaan pertama dalam fatwa no.21772).

Sumber : pengusahamuslim.com